Page Rank

Jumat, 08 Januari 2016

Gunung Raung, Gunung Angker

GUNUNG RAUNG merupakan salah satu gunung di Pulau Jawa yang paling sering didaki oleh para pecinta alam. Selain menawarkan pemandangan yang sangat indah, Gunung Raung juga dikenal dengan sejumlah kisah misterinya.

Keangkeran Gunung Raung tampak dari nama-nama pos pendakiannya yang menyimpan berbagai kisah misteri dan memiliki sejarahnya sendiri-sendiri, seperti Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit, dan Pondok Angin.

Menurut cerita masyarakat sekitar, pos pendakian Pondok Sumur memiliki sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada hingga kini, namun tidak dapat dilihat kasat mata. 

Para pendaki yang kerap berkemah di kawasan ini mengaku kerap mendengar suara derap kaki kuda yang melintas di belakang tenda. Tetapi saat dilihat ke belakang, tidak ada apa-apa.

Sedangkan Pondok Demit dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat jual-beli para lelembut atau Pasar Setan. Pada hari-hari tertentu, di kawasan ini suka terdengar keramaian seperti dalam pasar dengan alunan musik.

Lokasi pasar setan terletak di sebelah timur jalur atau lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu. Bagi orang-orang tertentu, lokasi ini kerap dijadikan tempat pesugihan.

Pos selanjutnya adalah Pondok Mayit. Sejarah pos ini sangat menyeramkan. Konon katanya, di kawasan ini pernah ditemukan sesosok mayat menggantung di pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh para pejuang.

Sementara pos Pondok Angin yang berada di puncak bukit merupakan pos yang sangat dinanti para pendaki. Dari pos ini, para pendaki bisa melihat pemandangan alam pegunungan dan gemerlap Kota Bondowoso dan Situbondo yang sangat indah.

Saat cuaca sedang mendung, dari pos ini juga bisa terlihat sambaran kilat di kota. Pemandangan yang sangat indah ini cocok bagi mereka yang mencintai seni fotografi.

Di balik keindahannya itu, angin yang bertiup di wilayah ini sangat kencang hingga suaranya terdengar maraung-raung. Saking kencangnya angin, para pendaki bisa terpental hingga ke dasar jurang yang terjal.

Misteri yang menyelimuti pos Pondok Angin adalah derap kaki suara kuda dari kereta kencana yang kerap terdengar di kawasan ini. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk ke kerajaan gaib itu.

Misteri yang tidak kalah menyeramkan berada di barat kaldera Gunung Raung yang merupakan perbukitan terjal. Di kawasan ini dipercaya masyarakat sekitar sebagai Kerajaan Macan Putih yang merupakan singgasana Pangeran Tawangulun.

Kerajaan Macan Putih berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan itu dipimpin oleh Pangeran Tawangulun yang merupakan salah satu anak raja di Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa.

Masyarakat sekitar percaya, Kerajaan Macan Putih masih ada hingga kini. Beberapa kali, bahkan kerajaan ini melangsungkan upacara pernikahan. Saat upacara dilangsungkan, hewan milik warga banyak yang mati mendadak.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, hewan-hewan itu bukan mati tanpa sebab, tetapi dijadikan upeti bagi para penguasa Kerajaan Macan Putih yang hilang tanpa jejak ke alam gaib atau moksa.

Masyarakat juga percaya bahwa Kerajaan Macan Putih sesekali tampak, terutama di malam Jumat kliwon ke alam nyata untuk beberapa maksud dan tujuan.

Dalam beberapa kepercayaan masyarakat disebutkan, Pangeran Tawangulun merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jumat, saat Kerajaan Macan Putih menampakkan dirinya ke alam nyata, Nyai Roro Kidul mengunjungi suaminya.

Kamis, 07 Januari 2016

SAINS : ALLAH, Tuhan Jagad Raya

Segala sesuatu yang berpermulaan pastilah memerlukan penyebab, karena alam semesta berpermulaan maka alam semesta memerlukan penyebab atas keberadaannya. Dengan demikian alam semesta itu ada, sebab diciptakan. Alam semesta ini mustahil ada jika tidak diciptakan sebagai suatu sebab keberadaanya.
Teori relativitas Einstain yang memiliki pijakan ekspreimental telah menunjukkan bahwa keberadaan waktu berkaitan dengan materi dan ruang, dengan demikian waktu itu sendiri bersesuaian dengan materi dan ruang. Materi,ruang dan waktu terbentuk seiring dengan terciptanya alam semesta yang diciptakan. Dengan demikian sangat tidak mungkin jika yang menciptakan alam semesta berbentuk materi dalam ruang maupun terbatasi waktu karena ketiganya sebelumnya tidak ada. Sehingga tidak mungkin Sang Pencipta alam semesta ini berbentuk materi, tidak mungkin hidup terbatas dalam ruang dan sangat tidak mungkin terbatasi oleh waktu. Jika yang menciptakan alam semesta itu terbatasi oleh waktu maka Sang Penciptapun akan mengalami kematian, sangat mustahil jika Sang pencipta itu mati.

Dalam kitab suci Al-Qur’an disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 255 yang artinya “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal terus menerus mengurus (makhluknya)”. Naaah dengan demikian hanya Allahlah Tuhan yang tidak terbatasi oleh waktu, sehingga Dia hidup kekal.
Dalam Surat Al-Ikhlas ayat 3-4 disebutkan yang artinya “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakan dan tiada seorangpun yang setara dengan Dia”. Dengan demikian sangat jelas bahwa Dia (Tuhan) bukan buatan manusia dan juga tidak dilahirkan oleh manusia dan jelas Tuhan bukanlah materi yang menempati ruang sehingga Tuhan bukanlah produk dari ciptaan karena Dia tidak memiliki Penyebab.

Hukum Termodinamika II menyatakan bahwa “Jumlah energy yang tersedia untuk beraktifitas dapat habis atau terus menyusut atau entropi meningkat menjadi maksimum” . berdasarkan hukum ini total energy terbatas dan jumlah energi yang digunakan berkurang sehingga alam semesta mustahil ada selamanya karena telah mengabiskan semua energy yang telah digunakan. Misal jika semua atom radioaktif akan rusak maka setiap bagian alam semesta akan memiliki suhu yang sama sehingga tidak akan terjadi aktifitas apapun. Dengan demikian alam semesta ini diciptakan oleh “Sang Pencipta” dengan banyak energy yang telah digunakan,kemudian sejak itu mengalami kemunduran.

Mekanika kuantum tidak pernah mengasilkan sesuatu dari ketiadaan. Teori bahwa alam semesta merupakan fluktuasi kuantum harus berasumsi bahwa pasti terdapat sesuatu untuk memfluktuasi “quantum vacuum” adalah banyaknya potensi materi-antimateri bukan ketiadaan. Sehingga jelas alam semesta memiliki permulaan yang tentu telah diciptakan oleh Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Tetapi Dia sendiri tidak memiliki awal maupun akhir, sehingga “Dia bukanlah produk dari ciptaan”.

Allah SWT berfirman : “Dan bertaqwalah kepada Allah Yang Hidup Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia mengetahui dosa-dosa hambaNya (Qs. Al-Furqaan:58)

Tuhan Adalah Tuhan, Hamba Adalah Hamba

Keesaan Allah adalah prinsip yang paling mendasar dalam Islam. Konsep ini berimplikasi pada kesatuan ciptaan yakni keterhubungan bagian-bagian alam yang selanjutnya berimplikasi juga pada kesatuan pengetahuan. Keyakinan bahwa Allah adalah Esa (tauhid) bukan hanya menjadi keimanan yang menjadi dasar keyakinan umat islam kepada Allah SWT, namun juga merupakan kerangka pemikiran yang membangun integritas kebenaran. Keesaan Allah SWT. menunjukkan bahwa tidak ada sekutu baginya. Bukti-bukti keesaan Allah adalah bahwa sesungguhnya alam semesta itu satu (yang disebut kesatuan alamiah). Beberapa bagiannya lebih mulia dan lebih tinggi dari sebagian yang lain. Dalam keseluruhan alam terdapat manusia yang merupakan makhluk yang dapat berfikir, alam fisik adalah badan dan lahiriyahnya, sedangkan alam arwah adalah ruh dan bathinnya.seluruhnya tersusun dalam kesatuan. Oleh karena alam itu satu, maka Tuhan penciptanyapun adalah satu.

Dalam pandangan islam, penciptaan alam semesta memiliki tujuan sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an yang artinya “Dan tidak Kami ciptakan langit dan bumi,dan apapun yang ada diantara keduanya untuk kesia-siaan” (Q.S 38:27). Pemahaman ini telah menepis pandangan kaum naturalis bahwa alam terjadi secara kebetulan yakni melalui proses alamiah berdasarkan hukum alam yang ada dalam dirinya. Oleh karena kebetulan tentu alam semesta tidak memiliki tujuan kecuali berjalan dengan hukum-hukum tersebut. Alqur’anpun telah menyatakan “Apakah kalian mengira bahwa kami menciptakan kalian hanya sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S 23: 115).

Islam menganjurkan umatnya untuk menjalankan agama secara kaffah (sempurna). Diantara komponen kesempurnaan itu adalah bahwa umat islam harus mengembangkan ilmu, terutama ilmu yang mempunyai perhatian tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 190 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Pernakah kita berfikir andai kita mengalami siang terus sampai hari kiamat atau sebaliknya jika kita mengalami malam terus sampai hari kiamat?. Pertanyaan seperti itupun sudah diajukan oleh Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 71 dan 72 yang artinya “Katakanlah, terangkan kepadaku, jika allah menjadikan untukmu malam it terus menerus sampai hari kiamat, siapa Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” sedangkan di ayat 72 dinyatakan ” Katakanlah , terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memerhatikan ?. Siang dan malam seakan menjadi hal yang sepele dan biasa dalam kehidupan kita namun sebenarnya banyak mengandung makna. Dalam ayat diatas ada pertanyaan “siapa tuhan selain Allah?. Adakah tuhan selain Allah SWT. Yang telah mengatur terjadinya siang dan malam, yang mendatangkan terang dan gelap? Tidak ada dan Tidak ada seorangpun.

Selain menganjurkan untuk menjalankan agama secara kaffah dan mengamati alam semesta, manusia juga dianjurkan untuk mengEsakan Dia, tidak menyekutukan dengan siapa dan apapun. Manusia yang sempurna tidak akan mengkalaim dirinya memiliki bau ketuhanan melainkan mengaku sebagai hamba sejati yang selelu berusaha untuk mendekatkan diri kepada penciptanya dengan kerendahan diri. Hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan. Pemberian predikat kehambaan kepada hamba berarti pemberian predikat ketuhanan kepada Tuhan. Hamba bukanlah Tuhan dan Tuhanpun bukanlah hamba. Nabipun seorang hamba dan tak pernah ada nabi yang menganggap dirinya Tuhan.
Dan ingatlh ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) Bukankah aku ini Tuhanmu?. Mereka menjawab betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. “(Q.S. Al-A’raf: 172)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Q.S. Al-Anbiya’:107).

ILMIAH : Mengapa Tuhan Tidak Bisa Dilhat?

Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak pernah berdiskusikan tentang agama, ahli bedah itu seorang Kristen dan seorang astronot orang yang tidak beragama. Sang astronotpun berkata: “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu Sang ahli bedah otakpun berkata: “ Dan aku mengoperasi banyak otak cemerlang namun aku tidak pernah menemukan satu pikiranpun.” Katanya.

Dari perkataan sang ahli bedah otak itu menunjukkan bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya tetapi tak pernah selkalipun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri, pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita ? gak ada tentunya.
begitu juga dengan perkataan sang astronot itu tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan.

Sekarang bagaimana sains memahami ini?

Dalam dunia fisika kita mengenal adanya dimensi ekstra, menurut fisika partikel setidaknya ada sepuluh dimensi ruang dan demensi waktu yang ada dalam penciptaan alam semesta. Jika ruang yang kita tempati ini adalah ruang material tempat planet-planet dan galaksi-galaksi, maka dimensi diluar dimensi kita adalah ruang immaterial.

Tiga dimensi ruang dan waktu yang kita tempati saat ini, sehingga kita bisa melihat benda-benda yang berada di dimensi kita. Sedangkan enam dimensi lainnya ada di alam semesta sebagai dimensi yang sangat kompak yang membungkus dimensi kita.

Ruang 3 dimensi dibungkus oleh ruang 4 dimensi anggap saja ini adalah lapisan pertama

Ruang 4 dimensi dibungkus oleh ruang 5 dimensi anggap saja ini adalah lapisan kedua

Ruang 5 dimensi dibungkus oleh ruang 6 dimensi anggap saja ini adalah lapisan ketiga

Ruang 6 dimensi dibungkus oleh ruang 7 dimensi anggap saja ini adalah lapisan keempat

Ruang 7 dimensi dibungkus oleh ruang 8 dimensi anggap saja ini adalah lapisan kelima

Ruang 8 dimensi dibungkus oleh ruang 9 dimensi anggap saja ini adalah lapisan keenam

Ruang 9 dimensi dibungkus oleh ruang 10 dimensi anggap saja ini adalah lapisan ketujuh

Makhluk di ruang dimensi 3 tidak akan bisa melihat makhluk yang ada di ruang dimensi 4, tetapi ini tidak berlaku sebaliknya, sedangkan makhluk di ruang dimensi 4 bisa melihat makhluk di ruang dimensi 3, begitu seterusnya, yang pada dasarnya makhluk disuatu dimensi tidak akan mampu melihat makhluk yang berada di dimensi yang lebih tinggi, sedangkan makhluk di dimensi yang lebih tinggi akan mampu melihat makhluk yang berada didimensi lebih rendah, dengan demikian misalnya ada makhluk di ruang dimensi 5 maka dia bisa melihat makhluk di ruang dimensi 4 dan 3. Dan seterusnya.

Untuk mempermudah memahaminya dapat saya uraikan seperti ini:

Bayangkan kita sebagai pengamat alam semesta yang didalamnya hanya berisi dua dimensi ruang (katakanlah x dan y),sehingga perlu satu dimensi lagi (katakanlah z) dari pada makhluk-makhluk yang hidup didalamnya di dua alam dimensional ini.
Katakanlah Budi memandang Ali, maka Budi hanya melihat satu sisi Ali dalam satu waktu (bagian depan, bagian belakang, samping kiri ataukah samping kanan) tergantung dimana posisi Budi, yang bentuknya hanya bidang, Budi tidak akan mampu melihat Ali secara utuh dalam satu waktu. Untuk mengetahui Ali secara utuh maka Budi harus mengelilingi Tubuh Ali, sehingga gambaran tubuh Ali secara utuh hanya ada pada pikiran Budi.
Meskipun demikian sebagai pengamat, dari dunia tiga dimensional kita bisa melihat Budi dan Ali secara keseluruhan.
Andai Budi atau Ali bersembunyi di dalam kamar, maka kita sebagai pengamat masih bisa melihatnya karena dinding temboknya tidak meluas ke dimensi kita, tetapi mereka tidak bisa melihat kita sebagai pengamat.
Dengan memahami tentang ruang dimensional ini, kita bisa memahami mengapa malaikat dan Tuhan tidak bisa kita lihat.

Mengapa Tuhan tidak bisa kita lihat ????

Allah SWT. Berfirman:
Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, Yaa Tuhanku, tampakkanlah kepadaku agar aku melihat kepada Engkau, Tuhan berfirman , kamu sekali-kali tidak sanggup melihatku, tapi lihatlah kebukit itu maka jika ia tetap ditempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman. (Qs. Al-A’raaf: 143)

Jika kita percaya dan menyakini bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan bukan lahir dari keabadian, maka kesepuluh dimensi yang membentuk alam semesta dijalankan oleh Tuhan. Karena Dia yang telah menciptakan Dimensi ruang dan dimensi waktu di alam semesta ini.

Kita yang berada di ruang dimensi 3 dan waktu, tidak akan mampu melihat segala sesuatu yang berada di ruang dimensi 4 sampai dengan 10 kecuali jika ada makhluk dari dimensi lain yang masuk ke dalam dimensi kita. Apalagi melihat yang menjalankan dan menciptakan dimensi-dimensi ruang dan waktu tersebut yaitu Tuhan. Tuhan tidak butuh dimensi untuk memempatkan dimana diriNya karena Dia ada sebelum dimensi ruang dan waktu tercipta dan Tuhan Kuasa untuk melihat seluruh makhluknya tanpa terkecuali.
Dalam surat Al-An’aam ayat 103 Allah SWT. Berfirman “ Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dia yang Maha halus lagi maha mengetahui.”

Bagaimana dengan malaikat ??

Malaikat tidak bisa kita lihat karena Mereka berdimensi lebih tinggi dari pada kita, walaupun kita tidak tahu persis di dimensi berapakah Mereka.

Disebutkan dalam sebuah hadits, daripada Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, katanya: Rasulullah shollaLlahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu mempunyai malaikat yang menyebar di jalan untuk mencari kumpulan orang-orang yang ahli berzikir. Jikalau mereka menemukan sekelompok kaum yang berzikir kepada Allah, lalu mereka berseru: “Marilah, di sini dapat terpenuhi hajatmu semua.” Mereka itu mengebas-ngebas sayap-sayap mereka sehingga datang di langit dunia.”

Pada saat kita berzdikir bersama-sama dalam suatu majlis zdikir pernahkah kita bersenggolan dengan para malaikat ?, atau bertemu dengannya dijalan saat kita berangkat ke majlis zdikir? Padahal kita yakin bahwa malaikat hadir disitu.

Sebut Nama ALLAH, Jangan Yang Lain

Dalam penelitian laboratorium oleh 20 ahli kedokteran hewan, farmasi dan sains di Universitas Suriah telah membuktikan bahwa menyembelih hewan dengan menyebut asma Allah SWT yaitu dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohiim dan Allahuakbar saat menyembelihnya maka dapat menstrerilisasi total terhadap tubuh dan membersihkan hewan sembelihan tadi dari darah dan kuman. Juru bicara tim tersebut yaitu Dr. Khalid Halawah mengatakan bahwa eksperimen laboratorium yang dilakukan selama 3 tahun dengan mengamati jaringan danging sembelihan dengan menggunakan mikroskup, didapatkan perbedaan bahwa menyembelih hewan tanpa menyebut nama Allah SWT. Dan takbir ternyata menahan sisa darah segar dan menjadi koloni sejumlah kuman seperti staphylococcus, streptococcus dan kuman usus besar dan lain sebagainya. Sedangkan daging hasil sembelihan hewan dengan cara menyebut asma Allah SWT saat menyembelih, yaitu dengan mengucapkan BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM dan ALLAHUAKBAR berada dalam keadaan bersih dan steril dari kuman-kuman.

Profesor Fu’ad Ni’mah guru besar pada Fakultas ilmu kedokteran hewan di Universitas Damaskus menjelaskan bahwa hewan yang disembelih dengan mengucapkan nama Allah SWT. Terlihat organ dan otot sangat rapat, kerapatan ini yang bertanggung jawab atas pemerasan darah pada daging keluar dengan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu daging tersebut menjadi bersih dan murni. Sementara hal ini tidak terjadi pada daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT. Dr. Nabil Al-Syarif mantan dekan Fakultas Farmasi Universitas Damaskus menjelaskan langkah metodologis penelitiaan sampai mendapatkan hasil dan kesimpulan yang luar biasa ini.

Dari penjelasan singkat ini , terlihat dengan jelas mengapa Al-Qur’an melarang manusia memakan bangkai dan hewan sembelihah tanpa menyebut nama Allah SWT. Bangkai merupakan hewan yang mati bukan karena sembelihan, naaah karena tanpa penyembelihah maka darah hewan tersebut masih tertahan didalam tubuhnya. Padahal kita tahu bahwa darah adalah pembawa berbagai kotoran tubuh seperti karbon dioksida, urine, asam boraks, kuman tubuh dan parasitnya dan ampas pengolahan makanan pada hewan yang berpindah melalui pembuluh darah atau urat nadi, sedangkan ampas ini pada umumnya adalah zat yang cepat membusuk dan hancur bila tertahan dalam tubuh mayat hewan, dengan demikian daging akan cepat rusak dan hancur. Sehingga dengan memakan bangkai (hewan tanpa sembelihan) bisa menimbulkan penyakit organis atau virus yang merusak dan menyebabkan kepikunan. Disampiny itu kita juga dilarang memakan darah dan daging babi. Dengan fakta ilmiah ini membuktikan bahwa Al-Quran adalah Firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Akhirul Zaman Muhammad SAW. Dan merupakan petunjuk bagi manusia yang mau memikirkannya.

Allah SWT telah mengingatkan kepada kita dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 115 yang artinya :

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Rabu, 06 Januari 2016

Dibalik 40 Hari

Dalam kepercayaan Kejawen angka 40 memiliki makna penting sekali (keramat). Karena di dalamnya terkandung sebuah rahasia kehidupan sebagai mana dimaksud dalam ungkapan “kakangne lembarep, adine wuragil” atau kakaknya sulung, adiknya bungsu. Ungkapan itu bermakna bahwa kelahiran kita di dunia ini sebagai sebuah akhir proses “triwikrama” sekaligus awal kehidupan manusia di “mercapada”. Selanjutnya kematian merupakan akhir dari kehidupan semu (duniawi), sekaligus merupakan awal dari kehidupan yang sejati.

Angka 40 di awal dan 40 di akhir kehidupan

Banyak terjadi kesimpang-siuran pemahaman kapan bayi dalam kandungan telah memiliki nyawa. Banyak pula orang menyangka setelah usia kandungan menginjak bulan keempat barulah bayi ditiupkan nyawa. Tapi tidak sedikit pula yang lebih percaya bilamana usia bayi dalam kandungan ibu akan ditiupkan nyawa tepat pada hari ke 40. Mana yang benar ?  Pemahaman yang berbeda-beda itu disebabkan tidak terdapat keterangan secara tegas di dalam kitab suci kapan waktunya si jabang bayi dalam rahim ibu mulai ditiupkan nyawa. Walaupun demikian, ada beberapa keterangan dalam bentuk samar yang kemudian dijadikan dasar penafsiran masing-masing.

Nyawa di hari ke 40

Ada yang lebih percaya jika di usia 4 bulan kandungan si jabang bayi baru memiliki nyawa. Tapi sekali lagi, tak ada patokan yang jelas untuk memihak yang mana. Saya dulu pernah mengalami keraguan mana yang dapat dipercayai, apakah usia 40 hari ataukah 4 bulan.  tiada keraguan lagi bahwa pada saat usia kandungan genap 40 hari jabang bayi mulai bernyawa. bila dikaitkan dengan kepercayaan bahwa setelah seseorang meninggal dunia hingga hari ke 40 setelah wafat rohnya tetap tinggal di rumahnya sendiri. Rumus 40 hari pra kelahiran dan 40 hari pasca kematian menjadi sinkron.

40 Hari Setelah Kematian

Apa yang terjadi 40 hari setelah kematian seseorang ? Tak ada sumber otentik dalam kitab suci yang menjelaskan secara tegas. Mungkin rahasia itu dibiarkan tetap menjadi rahasia. Dan menjadi tantangan tersendiri bagi siapapun yang selalu haus akan dahaga spiritual. Namun bagi ajaran Kejawen, telah dijelaskan dengan gamblang bila roh manusia akan melanjutkan “perjalanannya” ke alam baka bila telah melewati hari ke 40 terhitung sejak hari kematiannya. Selama 40 hari itu roh akan tetap tinggal di rumah-tinggalnya sendiri. Hanya bagi orang-orang tertentu saja yang “pinilih” dan terpilih tidak perlu melewati masa “tenggang” 40 hari.

Dari uraian diatas dapat diambil disimpulkan:

Pada waktu kandungan berusia usia 40 hari, si jabang bayi telah memiliki ruh.
Ruh mengalami pertumbuhan. Bila di usia kanak-kanak atau belum sempat lahir seseorang telah meninggal dunia, maka ruhnya tetap mengalami pertumbuhan menjadi dewasa.
Terkadang perjalanan ruh manusia ke dimensi alam ruh terganggu oleh urusan dunia yang tidak terselesaikan.  Sehingga ruh masih berada di dalam dimensi bumi. Ruh inilah yang sering merasuk ke dalam tubuh orang lain, karena kebingungan untuk menyampaikan pesan kepada orang yang masih hidup. Sadar akan jasadnya yang telah rusak, maka ruh meminjam jasad orang lain. Terjadilah apa yang dinamakan sebagai peristiwa kesurupan. Oleh sebab itu seyogyanya kita lebih arif dan bijak, jangan buru-buru bertindak ikut-ikutan (ela-elu) menganggap kesurupan itu hanyalah ulah setan penggoda iman. Penyimpulan tergesa-gesa ini sungguh dangkal, jauh dari kearifan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita bila mengetahui anggapan setan itu menimpa para almarhum saudara atau keluarga kita sendiri. Wallahu.. a'lam.

Sumber : Sabda Langit

Misteri Tentang : KUCING

Kucing memang jenis hewan yang banyak digemari sebagian kalangan masyarakat, hewan yang patut dipelihara, selain lucu kucing dulu juga hewan yang paling disayangi Nabi Muhammad SAW.

Karakter, Jenis dan sifat kucing yang misterius membuat orang terpesona sekaligus menakutkan. Dimana kucing ditakuti karena bisa membawa kesialan atau pertanda buruk dan dipuja-puja karena membawa keberuntungan. Berikut beberapa mitos, cerita dan kepercayaan yang berhubungan dengan kucing menurut kepercayaan Orang/masyarakat Jawa.

1. Berbulu putih dan pada bagian dada sampai punggung ada warna hitam (tembong) namanya Sanggabuana; tidak baik, yang memelihara selalu menderita sakit.

2. Berbulu hitam mulus dan panjang ekornya namanya: Putrakajantaka, tidak baik, berwatak selalu menumpahkan darah si pemelihara, sering memperoleh kematian dan kesusahan yang bermacam-macam.

3. Berbulu kembang asem, panjang ekornya/budel, namanya Bramapati; tidak baik, yang memelihara sering kehilangan dan boros. Akan tetapi jika bundle ekor tersebut berwarna bule ada juga baiknya, walau yang memelihara boros , berwatak menuntut pada kebaikan.

4. Kucing yang berbulu apa saja, tetapi jika dibagian kepala, dada serta punggungnya ada usar-usarnya namanya:Candramawa amat baik, si pemelihara akan memperoleh keuntungan serta kemuliaan.

5. Kucing yang bisu, berwarna apa saja namanya: Wisnutapa. Baik, yang memeliharanya akan tercapai segala yang diinginkannya dan mendapat keselamatan. 

6. Kucing yang ke empat buah kakinya berwarna hitam, namanya : Winataba. Baik, yang memelihara memperoleh keselamatan.

7. Kucing yang telapak kakinya dapat sampai ke kepala, namanya: Kusumawibawa. Baik, yang memelihara banyak memperoleh rejeki.

8. Kucing yang berwarna hitam, lambung kiri tembong putih, namanya: Wulantumanggal. Baik, se pemelihara akan memperoleh apa yang diinginkan dan memperoleh keselamatan.

9. Putih warnanya, kepala sampai dada daler hitam, namanya: Janggamengku, Baik, si pemelihara akan memperoleh banyak keuntungan dan akan memberi keselamatan.

Semoga Bermanfaat..